PINTU MASUK ANGGOTA
test top ikon
top test
Denmark
Denmark
Jepang
Indonesia
USA
Jerman
Join Member Gomedis Indonesia? Daftar Sekarang!

Cacar monyet adalah penyakit yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di publik. Namun, sudah tahukah Anda apa itu cacar monyet? Kondisi ini adalah salah satu masalah kulit yang disebabkan oleh infeksi virus, umumnya ditandai dengan munculnya bintil bernanah pada kulit.
Sama halnya dengan cacar air, cacar monyet adalah kondisi yang dapat ditularkan dengan mudah melalui percikan air liur. Untuk memahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, dan cara mengobati cacar monyet, langsung saja simak informasi di bawah ini.
Cacar monyet adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus langka dari hewan (zoonosis) atau sering kali secara global disebut dengan virus monkeypox. Penyebutan cacar monyet sendiri bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan monyet merupakan inang utama dari virus monkeypox.
Sebenarnya, cacar monyet adalah kasus yang sudah muncul dari tahun 1970 di Kongi, Afrika Selatan, yaitu kasus yang menular dari monyet ke manusia.
Saat seseorang terkena penyakit cacar monyet, maka pada permukaan kulitnya akan muncul bintil-bintil bernanah, bahkan melepuh. Sama halnya dengan penyakit cacar lainnya, cacar monyet juga disertai dengan demam tetapi diiringi pembengkakan pada kelenjar getah bening di ketiak.
Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan luka yang terkontaminasi virus, droplet, dan cairan tubuh (saat batuk atau bersin). Sementara penularan dari hewan ke manusia bisa terjadi lewat gigitan hewan, kontak langsung dengan atau kulit hewan, atau menyentuh benda yang terkontaminasi virus.
Penyebab cacar monyet adalah adanya infeksi virus monkeypox. Virus ini termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Virus dalam genus Orthopoxvirus meliputi smallpox (penyebab cacar), virus cowpox (cacar sapi), dan virus vaccinia (virus yang digunakan dalam vaksin cacar). Memang virus ini dapat bertransmisi dan menular, namun Anda tetap dapat membedakannya dengan virus penyakit kulit lain seperti cacar air atau pun herpes.
Pada mulanya, virus ini didapatkan dari gigitan hewan liar seperti tupai dan monyet. Kasus yang paling sering terjadi adalah penularan dari hewan ke manusia.
Gejala cacar monyet umumnya akan mulai terasa setelah 6-16 hari seseorang terpapar, di mana masa inkubasi virus ini berkisar antara 6-13 hari. WHO membagi gejala cacar monyet menjadi dua periode infeksi, yaitu periode invasi dan periode erupsi kulit. Ini masing-masing penjelasannya:
Periode ini berlangsung dalam 0-5 hari setelah terinfeksi virus. Adapun beberapa gejala yang ditimbulkan adalah:
Perbedaan utama gejala cacar lainnya dengan penyakit cacar monyet adalah adanya pembengkakan pada kelenjar getah bening. Pada kasus lain, gejala yang ditimbulkan bisa saja lebih parah, seperti gangguan pernapasan seperti radang tenggorokan, batuk, dan hidung tersumbat.
Gejala utama dalam periode erupsi kulit pada cacar monyet adalah munculnya ruam pada kulit, biasanya akan terjadi pada 1-3 hari setelah pengidap mengalami demam.
Pertama-tama, ruam akan muncul di wajah, kemudian mulai menyebar ke seluruh tubuh. Area tangan, kaki, dan wajah merupakan bagian yang paling terdampak ruam. Ruam kulit diawali dengan bintik-bintik kemudian berubah menjadi lenting atau vesikel, yaitu lepuhan yang berisi cairan. Lalu, dalam beberapa waktu akan membentuk kerak.
Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi cacar monyet, dokter akan melakukan diagnosis dengan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi gejalanya.
Namun, agar hasil diagnosis lebih akurat, pasien akan dianjurkan untuk melakukan tes laboratorium guna mengetahui jenis virus yang menginfeksi. Salah satu prosedur tes yang sering dilakukan adalah tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Tujuannya adalah menganalisis sampel yang diambil dari lesi kulit pasien terdampak cacar.
Cacar monyet adalah kondisi yang dapat menyerang siapa saja, terlebih bagi seseorang yang belum pernah terinfeksi sebelumnya. Namun, di luar itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena cacar monyet, di antaranya yaitu:
Hingga saat ini, belum ada obat cacar monyet secara spesifik. Pasalnya, kondisi ini dapat pulih dengan sendirinya dalam 2-4 minggu. Namun, beberapa negara menggunakan tecovirimat sebagai cara mengobati cacar monyet. Obat ini bekerja dengan menghambat virus monkeypox berkembang biak dan menyebar ke orang lain.
Selama mengalami gejala cacar monyet, pengidap disarankan untuk memaksimalkan waktu istirahat, mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi serta menjaga pola makan sehat. Pengidap cacar monyet juga disarankan melakukan karantina mandiri dan tidak keluar rumah untuk meminimalisir penyebaran.
Tetapi, apabila pengidap mengalami gejala yang parah atau mengalami komplikasi, maka akan disarankan untuk menjalani rawat inap.
Usaha pencegahan yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan vaksin, yaitu dengan pemberian vaksin cacar Jynneos. Vaksin ini diketahui 85% efektif dalam mencegah cacar monyet.
Vaksin Jynneos telah disetujui secara resmi oleh FDA pada tahun 2019 sebagai vaksin untuk mencegah penyakit cacar (smallpox) sekaligus cacar monyet (monkeypox). Namun sejauh ini, vaksin Jynneos hanya disetujui untuk diberikan pada populasi dewasa (di atas 18 tahun).
Pada dasarnya, cacar monyet adalah penyakit kulit yang dapat sembuh dengan sendirinya selama beberapa minggu. Namun, bukan berarti gejala ini tidak mengganggu pengidapnya apabila dibiarkan begitu saja. Karenanya, pengobatan cacar monyet perlu dilakukan guna meredakan gejala yang timbul.
